Studi Baru NYU Sebut Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson Turunkan Tingkat Antibodi pada Varian Delta

- 22 Juli 2021, 09:46 WIB
Sebuah studi baru NYU sebut vaksin Covid-19 Johnson & Johnson malah menurunkan tingkat antibodi pada varian Delta.
Sebuah studi baru NYU sebut vaksin Covid-19 Johnson & Johnson malah menurunkan tingkat antibodi pada varian Delta. /Freepik/rawpixel

PR PANGANDARAN - Sebuah studi baru menemukan dosis tunggal vaksin Covid-19 Johnson & Johnson menghasilkan tingkat antibodi yang relatif rendah terhadap varian Delta, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang seberapa baik suntikan itu akan bertahan melawan strain yang menyumbang sebagian besar kasus di Amerika Serikat tersebut.

Adapun studi baru tentang dosis tunggal vaksin Covid-19 Johnson & Johnson memiliki antibodi rendah pada varian Delta itu, diketahui dirilis pada server pracetak bioRxiv, belum dipublikasikan dalam jurnal peer-review dan berfokus pada satu bagian kunci dari respons imun, yang disebut antibodi penetral.

Lebih lanjut, studi baru itu berasal dari ilmuwan Universitas New York yang menyatakan vaksin Johnson & Johnson menghasilkan sekitar lima kali lipat tingkat antibodi pelindung terhadap varian Delta dibandingkan dengan jenis Covid-19 yang awal.

Baca Juga: Tepis Kabar Batalnya Nikah dengan Lesti Kejora, Rizky Billar: Menjadi Sesuatu yang Spesial

Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Rochelle Walensky mengatakan varian delta menyumbang 83% dari kasus Covid-19 yang diurutkan secara genetik di AS.

Sementara vaksin Covid-19 mRNA dua dosis dari Pfizer dan Moderna juga dinyatakan menghasilkan lebih sedikit antibodi terhadap varian Delta yang sangat mudah menular, pengurangannya tidak terlalu dramatis, demikian studi baru tersebut mengklaim.

Dibandingkan dengan dua suntikan vaksin mRNA Pfizer dan Moderna, satu suntikan Johnson & Johnson menunjukkan penurunan yang lebih nyata dalam titer penetral terhadap varian, meningkatkan potensi penurunan perlindungan, demikian kata para peneliti dari NYU dalam studi baru tersebut.

Baca Juga: Butuh Darah, Ustaz Yusuf Mansur Takjub Dapat Donor Penghafal Quran Internasional: Saya Tahu Dosa Saya Banyak..

Namun begitu, Johnson & Johnson memberi tanggapan bahwa studi baru itu hanya memeriksa satu aspek perlindungan, bahkan tidak mempertimbangkan tanggapan jangka panjang di antara sel-sel kekebalan yang dirangsang oleh vaksinnya.

"Data tidak berbicara dengan sifat penuh perlindungan kekebalan dari suntikan," demikian kata juru bicara Johnson & Johnson, Jake Sargent.

Halaman:

Editor: Khairunnisa Fauzatul A

Sumber: NDTV


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

Pikiran Rakyat Media Network

X