Efek Islamophobia yang Meluas, Prancis Jadi Negara yang Gencar Pajang Kartun Nabi Muhammad SAW

- 27 Oktober 2020, 22:14 WIB
Majalah Charlie Hebdo cetak ulang karikatur kontroversial, atas nama kebebasan berpendapat atau Provokasi sia-sia? Sumber:  akun Instagram resmi majalah Charlie Hebdo (@Charlie_Hendo_officiel)
Majalah Charlie Hebdo cetak ulang karikatur kontroversial, atas nama kebebasan berpendapat atau Provokasi sia-sia? Sumber: akun Instagram resmi majalah Charlie Hebdo (@Charlie_Hendo_officiel) /

Menurutnya, Turki sebenarnya juga sudah pernah menerapkan 'Assertive Secularism'.

Namun, sejak masuk pemerintahan yang dipimpin oleh Erdogan sekarang ini Turki beralih menjadi 'Passive Secularism', artinya dalam studi AT Kuru lebih mendekat pada contoh cara Amerika Serikat yang memberikan ruang kebhinekaan, multikulturalisme dalam ekspresi praktik keyakinan keagamaan di ranah publik.

Baca Juga: Cari Kehidupan di Luar Bumi, LAPAN Siap Meneliti Planet Luar Angkasa dengan Anggaran Rp340 Miliar

Terakhir, Arya selaku Direktur Eksekutif The Indonesian Democracy Initiative (TIDI) menyimpulkan bahwa Erdogan layak mengecam Macron.

Hal itu dikarenakan, Macron masih mempertahankan praktik sekularisme asertif yang anti terhadap ekspresi keyakinan keagamaan di ruang publik.

"Di tengah iklim multikulturalisme, liberalisme, juga kebebasan di Eropa, tentu saja Erdoğan layak mengecam Macron karena masih saja mempertahankan praktik sekularisme asertif yang anti, agresif, dan represif terhadap ekspresi keyakinan keagamaan di ruang publik," pungkasnya.***

Halaman:

Editor: Nur Annisa

Sumber: RRI


Tags

Artikel Rekomendasi

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah